Situs yang menyajikan informasi tentang wanita,kesehatan, kecantikan, rumah tangga dan berbagai tips menarik lainnya. Jual cream sari, kanza, minyak bulus, acerola, bianka viex, biex, CX, tulipware | WA 08569834604

Silahkan Cek...!!? Perhitungan Yang Mencengangkan, Minimnya Waktu Yang Disediakan Untuk Beramal Sholeh

www.widjiume.com - Orang-orang yang mengamati kondisi kaum muslimin saat ini dapat memperkirakan bahwa kebanyakan orang-orang shaleh yang beramal menapaki jalan keshalehan dan mempelajarinya, dimulai pada usia kurang lebih 20 tahun. Artinya ia telah kehilangan kira-kira sepertiga dari usianya tanpa memanfaatkannya seperti yang diharapkan. Hal ini berdasarkan hadist Nabi Muhammad saw,

"Usia umatku dari enampuluh tahun sampai tujuh puluh tahun" (HR Tirmidzi)

Perhitungan Yang Mencengangkan, Minimnya Waktu Yang Disediakan
Untuk Beramal Sholeh
Ini adalah sebuah kenyataan, bahkan banyak sekali kita saksikan teman atau saudara kita yang tidak sampai 60 tahun sudah meninggal dunia. Ini bisa menjadi satu teguran berharga buat kita bagaimana untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, sehingga tidak menyesal di kemudian hari. Waktu yang terlewat tidak akan pernah bisa kembali dan kita tidak mungkin untuk dapat mengulang atau mengejarnya.

Katakanlah seorang shaleh hidup didunia ini selama 60 tahun, sehingga usia yang tersisa hanyalah sekitar 40 tahun. Adapun untuk umur 40 tahun ini berjalan seperti berikut ini yang kebanyakan orang memang melakukannya :


Pertama, sepertiga dari usia dipergunakan untuk tidur. Ini merupakan kebiasaan manusia. Ada juga manusia tidur dalam sehari sampai 12 jam -kami berlindung pada Allah-. Itu sama halnya setengah kehidupan mereka. Ada juga yang tidur kurang dari 8 jam sehari, itupun sedikit. Artinya dari usia yang 40 tahun berkurang sekitar 13 tahun 6 bulan.

Kedua, sepertiga usia digunakan untuk bekerja. Ini juga menurut kebiasaan, karena sebagian manusia ada yang mempunyai 2 pekerjaan atau lebih. Dengan demikian -bila sepertiga usia untuk bekerja- dari usia 40 tahun, maka berkurang lagi sebanyak 13 tahun 6 bulan.

Ketiga, berdasarkan perincian diatas maka usia yang tersisa bagi orang yang hidup 60 tahun sekitar 13 tahun saja. Sisa usia tersebut digunakan untuk melakukan kewajiban agama, masalah dunia seperti menikah, memelihara anak, mengunjungi kerabat dan teman-teman, makan, minum, pergi tamasya, pergi ke pasar, dan lain sebagainya. Jadi masih adakah usia yang tersisa baginya untuk ikut serta berlomba-lomba mencapai masalah akherat dan berlomba mendapatkan kenikmatannya??

Karena itulah generasi salaf mengurangi waktu tidur, kerja dan pemenuhan kerja mereka, sehingga tersedia waktu lebih banyak dari yang saya sebutkan diatas. Wallahu'alam.

Baca Juga : Inilah Alasan Kenapa Menikah Bisa Menyempurnakan Separuh Agama...


Riwayat Hidup Imam Nawawi rahimahullah


Ini salah satu contoh yang merupakan riwayat harum dan besar, layak untuk merepresentasikan kondisi kaum salaf dalam hal mengelola waktu  untuk berbuat sholeh, mengurangi makan, minuman, bekerja dan tidur, sehingga mereka memiliki banyak waktu yang dapat digunakan untuk berbuat taat kepada Allah swt.

Ketika Imam Nawawi rahimahullah pindah dari kampung kelahirannya, Nawa ke Damaskus, ia bertambah giat mempergunakan waktunya hingga selama 2 tahun penuh ia tidak merebahkan badannya ke bumi, melainkan tidur bersandar pada bukunya, selalu sibuk belajar, memperbanyak ibadah seperti shalat malam, puasa selama setahun penuh, disertai sifat zuhud dan wara'. Bahkan berpegang teguh pada sikap wara' dengan ketat dan tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Setiap hari ia mempelajari 12 mata pelajaran dari gurunya. Ia menjadi panutan dalam hal kesungguhan mencari ilmu siang dan malam, tidak tidur kecuali tertidur dan s.elalu menjaga waktunya.

Ia pernah berkata, "Apabila kantuk mengalahkan diriku maka aku bersandar sebentar kemudian aku terbangun." Salah seorang temannya datang dan membawa makanan yang masih ada kulitnya, namun ia tidak bersedia memakannya. Ia berkata,"Aku khawatir tubuhnya lembab sehingga aku tertidur." Dalam sehari semalam ia tidak makan kecuali sekali setelah waktu akhir isya dan tidak minum kecuali sekali pada waktu sahur.

Ia makan roti yang dibawakan oleh ayahnya dari negeri Nawa yang dibuat sendiri dan cukup untuk persediaan selama satu minggu. Ia juga tidak pernah memakan kecuali hanya satu macam makanan. Sedangkan daging, imam Nawawi memakannya sekali dalam sebulan dan hampir tidak pernah ia memakan makanan dengan 2 lauk selama hidupnya.

Secara garis besar imam Nawawi adalah seorang yang jauh dari kemewahan dan bersenang-senang, serta memiliki sifat taqwa, qona'ah, wara', selalu muroqobah kepada Allah di waktu sendiri atau ramai, sedikit tertawa, jarang bermain bahkan menghindarinya, berani berkata benar sekalipun itu pahit, tidak takut celaan orang yang suka mencela.

Cukup sebagian riwayat imam Nawawi saya kemukakan sebagai contoh. Di kalangan kaum salaf masih banyak lagi berpuluh-puluh contoh yang memiliki tekad besar sepertinya. Semoga Allah merahmati mereka semuanya.

Tidakkah kamu lihat -saudara pembaca- bagaimana orang shaleh memanfaatkan waktunya bahkan berkejaran dengan waktu. Semua itu karena mereka mengetahui betul nilai dan singkatnya waktu sehingga mereka memanfaatkan sebaik mungkin.

Baca Juga : Beginilah Cara Berdandan Yang Terlarang Bagi Muslimah...!!

pentingnya memanfaatkan waktu untuk akherat
pentingnya memanfaatkan waktu untuk akherat



Beberapa Kontradiksi yang Sering Kita Dengar Soal Waktu


Kalau kita cermati dalam surat Al Qoshosh ayat 77, sangat jelas apa yang Allah swt perintahkan kepada kita :

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. al-Qoshosh: 77)"

Perintah utama untuk kita adalah mencari kebahagiaan negeri akherat, tanpa melupakan kenikmatan duniawi saat ini. Kita juga sering mendengar dari beberapa ustadz atau penceramah yang mengatakan bahwa, "Jika kita mementingkan kehidupan akherat, maka dunia akan mengikutinya. Namun, jika yang kita pentingkan urusan dunia, maka akherat pasti akan terlewatkan"

Di samping itu, ada sebuah entah ungkapan atau perkataan siapa yang jelas ini bukan hadist, namun sangat terkenal. Bahkan dalam sebuah syair lagu juga tidak asing di telinga kita sebagai masyarakat Indonesia. Dan begitu juga di negara tetangga. Adapun ungkapan itu adalah sebagai berikut ini :

"Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan beramal buat akhiratmu, seakan-akan kau akan menemui ajal esok pagi."


Padahal sudah banyak juga ulama-ulama hadits yang menjelaskan bahwa ungkapan tersebut bukanlah berasal dari nabi SAW, melainkan berasal dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash ra. Itupun dengan sanad terputus. Artinya bahwa ungkapan tersebut berasal dari Abdullah bin Amr ra pun juga meragukan. Sehingga tidak dapat dijadikan sebuah keyakinan untuk kita gunakan sebagai pegangan.

Beberapa hal inilah dapat kita simpulkan bagaimana pentingnya waktu untuk kita gunakan. Jangan sampai kehidupan yang kita jalani membuat kita terlena dan lengah dengan apa yang sudah diperintahkan kepada kita, yaitu mencari kebahagiaan negeri akherat, baru kemudian jangan lupa dengan kehidupan dunia. Sehingga kita dapat membagi-bagi waktu terbaik apa saja yang menguntungkan buat kita untuk kehidupan dunia atau akherat. Semoga bermanfaat.