Situs yang menyajikan informasi tentang wanita,kesehatan, kecantikan, rumah tangga dan berbagai tips menarik lainnya. Jual cream sari, kanza, minyak bulus, acerola, bianka viex, biex, CX, tulipware | WA 08569834604

Tidak Selalu Dengan Cinta

Pernahkah kita merasa keliru memilih pasangan hidup? Jujur saja hal itu mungkin pernah menyelinap dan mungkin tidak hanya sekali dalam benak kita. Utamanya saat muncul konflik dengan suami, masa-masa kejenuhan melanda, atau kita merasa kecewa pada mereka. Pada para suami yang memulai pernikahan mereka tanpa diawali rasa cinta kepada pasangan atau pacaran tentunya lebih 'mungkin' lagi. Benarkah demikian. 
www.widjiume.com - Meski sejatinya pacaran sebelum menikah tidak akan menjamin awetnya hubungan suami istri. Pacaran secara syar'i dilarang karena merupakan salah satu peluang untuk berbuat maksiat, mulai yang kecil hingga yang besar sangat terbuka lebar. Bukankah dua insan yang penuh dengan rasa cinta dan gairah yang membara telah menemukan penyalurannya, disaat Allah swt menciptakan naluri seks sebagai naluri yang paling kuat dalam diri manusia??

Tidak Selalu Dengan Cinta


Sebenarnya, mereka yang pacaran juga akan merasakan kebimbangan dan keraguan manakala memutuskan untuk menikahi sang pacar. Sebab, masa pacaran tidak menjamin dapat mengenal pasangan dengan baik. Pacaran hanyalah mimpi romantis yang mengubur penilaian sesungguhnya pada pasangan. Sehingga dari berbagai survey yang ada, perceraian dalam pernikahan yang dimulai dengan pacaran, 4 kali lebih banyak dari pada mereka yang menikah tanpa melakukan pacaran terlebih dahulu. Nah loh!!

Ya, hal ini memang tidak terbantahkan. Dimana sering kita temukan mereka yang sudah pacaran berbulan-bulan atau bertahun-tahun, setelah menikah beberapa bulan sudah cerai. Bahkan ada yang dalam hitungan hari sudah pisah ranjang. Itu banyak terjadi. Padahal dalam pacaran sudah sangat 'dekat' namun masih saja terjadi tidak sepaham dalam bahtera kehidupan mereka yang menyebabkan mereka akhirnya cerai. Inilah salah satu bukti kalau pacaran tidak menjadi dasar bagi pintu utama terbukanya suatu jodoh. Sebaliknya bagi mereka yang tidak pernah pacaran atau 'dijodohkan' lebih awet dalam keluarganya. Banyak sekali contoh seperti ini. Salah satunya adalah saya sendiri. Ketemu sekali, langsung ijab dan jadian. Begitu juga dengan teman lain dengan metode yang sama.

Fakta terbaru, sebagai mana dilaporkan National Geograohic edisi Februari 2006, ternyata, ramuan kimiawi dalam otak yang memicu asmara berbeda dengan campuran kimiawi yang memupuk ikatan jangka panjang. Sehingga mereka yang berharap hubungan suami istri yang akan awet dan langgeng, tidak bisa 'hanya' berharap dari kekuatan cinta mereka. Sebab kekuatan cinta yang membara dan berkobar-kobar itu akhirnya akan surut juga. Yang terpenting kini adalah justru upaya agar rasa itu menghangat dalam suhu stabil, untuk jangka waktu yang lama. Menemukan pola komunikasi tepat, komitmen pernikahan yg kuat, dan tidak kalah penting adalah kematangan jiwa dan banyak problem rumah tangga lain yang harus dicarikan penyelesaiannya.
Hasil penelitian ini mestinya menambah keyakinan kita akan kebenaran manhaj Ilahi. Karena kita percaya bahwa cinta adalah amalan hati, dimana hati dan seluruh makhluk yang berhati dibawah genggaman-Nya. Dia akan membolak-balikkannya sekehendak-Nya. Merubah kebencian menjadi kecintaan dan merubah cinta menjadi benci bukanlah perkara yang sulit bagi Allah swt. Sehingga ketika kita mensyaratkan cinta bagi calon mempelai, tentulah itu cinta pada Allah swt. Sisanya bertawakkal kepada-Nya, sebab memiliki pasangan sholih hakikatnya memiliki separoh agama ini.

Maka siapapun yang memulai pernikahannya dengan niat mulia, menjaga kehormatan dan kesucian diri, Allah swt menjadi Penjaminnya. Jaminan dalam makna luas, bukan semata kecukupan materi saja, namun semua persoalan dalam perwujudan rasa sakinah, mawaddah dan rahmah dalam keluarga. Bukankah ucapan selamat kita kepada mempelai berdua adalah :

Baarakallahu laka wa baaraka'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoirin

Makna dari doa diatas adalah semoga engkau selalu mendapatkan barokah Allah dalam kelapangan maupun kesempitan. Bukankah ini sudah mencukupi sebagai doa yang baik??

Hasan Al Bashri menyatakan mestinya seorang bapak memilih lelaki shaleh untuk anak gadisnya. Sebab, jika dia tidak mencintai anak gadisnya, dia tidak akan menzaliminya. Sedang jika dia mencintai anak gadisnya, dia akan memuliakannya. Yang pasti, sebab seorang lelaki shaleh akan mencintai Allah.

Maka saat seorang ikhwan atau akhwat memutuskan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dahulu, jelas itu bukan tindakan konyol, norak dan tanpa pertimbangan. Mereka hanya butuh kepastian bahwa calon pasangannya adalah insan beriman, muslim yang shalih. Bukankah Rasulullah saw memerintahkan kepada para wali untuk menikahkan putri-putri mereka dengan lekaki yang akhlak dan agamanya mereka ridhai? Kita berlindung kepada Allah dari menuduh bimbingan Rasul adalah salah dan menyesatkan.

Belum lagi niatan untuk beribadah didalam pernikahan, doa para ikhwan dan akhwat yang lain, serta jaminan Allah kepada mereka, tentunya bukan persoalan sepele. Inilah modal pernikahan yang berserak-serak. Dan jika ia berkumpul dalam sebuah tali perkawinan, insyaAllah akan menjadi kekuatan yang mengejutkan. Bahwa kemudian ada konflik dalam rumah tangga, itu wajar. Sebagaimana mereka yang pacaran dan saling cinta pun tidak sepi dari hal itu. Kuncinya adalah bagaimana mengelola masalah dan konflik itu secara dewasa

Kini kita yakin meski romatisme cinta itu tidak kunjung meledak-ledak, bukan berarti kita telah keliru menikahi pasangan kita hari ini. Percayalah, Allah telah mengaturnya dan Dia pula yang akan memudahkannya, semoga.

cream sari pemutih wajah aman bpom
Mencerahkan wajah, menghilangkan jerawat,
Flek hitam dan wajah lebih putih

PIN BB 23687D82
WA 08569834604